Berbagai Jenis Tanaman Paku Yang Harus Anda Ketahui !

Tanaman paku-pakuan hidup di hampir semua wilayah/tempat di seluruh dunia. Wilayah lembab, di atas permukaan tanah, sekitar wilayah air, wilayah gunung berapi kecuali daerah gurun yang kering dan daerah salju abadi. paku-pakuan (pterydophyta) merupakan tanaman dengan ciri memiliki daun, batang, akar sejati atau istilahnya disebut cormophyta.

Cara hidup tanaman paku-pakuan juga beragam. Ada yang hidup secara epifit maupun saprofit. Sebagaimana lumut, tanaman paku-pakuan juga mengalami metagenesis. Namun, ada yang membedakan tanaman paku–pakuan dari lumut, yaitu pada tanaman paku – pakuan fase yang lebih dominan adalah fase sporofit, pada tanaman lumut fase gametofit justru lebih dominan. Ini bearti dalam sistim reproduksi, tanaman paku-pakuan berkembang biak mengunakan spora. Bentuk tanaman paku-pakuan cukup bervariasi, ada yang berbentuk pohon, rerumputan serta berbentuk seperti tanduk rusa.

Ciri – ciri umum tanaman paku-pakuan

  1. Memiliki akar, batang, daun sejati ( cormophyta). Ini berarti antara akar, batang, dan daun sudah dapat dibedakan dengan jelas.
  2. Akar pada tanaman paku-pakuan bersifat seperti serabut atau istilahnya rizoid dengan pelindung pada ujungnya yang disebut tudung akar atau kaliptra.
  3. Umumnya batang pada tanaman paku – pakuan tidak terlihat, karena biasanya akar pada tanaman paku – pakuan terbenam dalam tanah dalam bentuk rimpang (rizoma). Namun demikian, ada juga akar tanaman paku – pakuan yang berdiri tegak di atas permukaan tanah seperti Cyathea.
  4. Daun muda pada tanaman paku-pakuan umumnya menggulung dan melingkar pada ujungnya.
  5. Memiliki klorofil sehingga bersifat autotrof
  6. Tidak memiliki biji untuk berkembangbiak
  7. Walaupun sifat akarnya seperti serabut (rizoid), tetapi telah memiliki jaringan pengangkut yang sempurna, yaitu jaringan pengangkut xilem dan floem.
  8. Memiliki tinggi yang bervariasi, dari yang tingginya 2 cm hingga 5 m (misalnya paku tiang atau
  9. Sphaeropteris). Bahkan tanaman paku pada zaman purba diperkirakan tingginya mencapai 15 m.
  10. Siklus hidupnya terdiri dari dua generasi, yaitu generasi sporofit dan gametofit.
  11. Cara hidup tanaman paku-pakuan secara epifit dan sprofit.

Beberapa jenis tanaman paku :

Subdivisi psilopsida (paku purba)

Tanaman paku subdivisi psilopsida merupakan salah satu tanaman paku yang sederhana, karena susunan atau struktur tanamannya dapat dikatakan cukup sederhana. Tanaman paku psilopsida ini hanya berupa ranting yang bercabang – cabang, tanpa daun dan akar. Adapun, struktur yang berbentuk bulu – bulu halus yang disebut rizoid atau akar semu, berfungsi seperti akar, alat untuk melekatkan diri pada substrat dan menyerap air dan zat hara. Psilopsida hanya memiliki dua genus di seluruh dunia yang tersebar di iklim tropis dan subtropis. Tanaman ini termasuk tanaman sporofit atau penghasil spora. Sayangnya, tanaman subdivisi psilopsida ini termasuk tanaman yang hampir punah keberadaannya. Contoh subdivisi psilopsida ini adalah Psilotum nudum.

Ciri – ciri psilopsida:

  1. Homospora
  2. Berdaun mikrofil dan batangnya berklorofil
  3. Tak memiliki daun sejati
  4. Hidup di daerah beriklim tropis dan subtropis
  5. Umumnya telah punah dengan perkiraan 10 hingga 13 jenis yang masih bertahan hidup hingga saat ini.

Subdivisi Lycopsida

Subdivisi lycopsida merupakan tanaman paku heterospora, yaitu tanaman yang menghasilkan dua jenis spora, mikrospora dan makrospora. Lycopsida atau disebut juga paku rambut atau paku kawat memiliki daun yang kecil – kecil dan hidup di daerah tropis seperti Indonesia. Subdivisi lycopsida termasuk tanaman epifit atau menumpang hidup pada tanaman lainnya. Subdivisi Lycopsida contohnya adalah tanaman Lycopodium cernuum (paku kawat) serta Selaginella (paku rane).

Ciri – ciri Lycopsida:

  1. Memiliki akar, batang, daun sejati
  2. Daunnya tersusun rapat dan bentuknya kecil – kecil
  3. Memiliki dua jenis sporangium pada paku rane atau Selaginella, yaitu makrosporangium dan mikrosporangium.
  4. Hidup di tanah ataupun menempel pada batang pohon

Subdivisi sphenopsida

Tidak seperti subdivisi lycopsida yang hidup di daerah tropis, sebaliknya subdivisi sphenopsida atau yang juga disebut tanaman paku ekor kuda hidup di daerah sub tropis, terutama di daerah rawa – rawa. Subdivisi sphenopsida memiliki daun mikrofil dan termasuk generasi sporofit, yaitu tanaman yang menghasilkan spora. Spora haploid dihasilkan dari sporangium (kotak spora) dengan cara meiosis. Subdivisi sphenopsida memiliki batang yang keras dan berongga, mengandung silika. Contoh dari Subdivisi sphenopsida adalah Equisetum palustre.

Ciri – ciri sphenopsida:

  1. Sering tumbuh di daerah berawa
  2. Heterospora
  3. Kandungan silika yang berlimpah pada batangnya
  4. Batangnya tumbuh di atas permukaan tanah (tegak) juga terbenam dibawah permukaan tanah (rimpang / rhizome)

Subdivisi Pteropsida

Subdivisi Pteropsida (paku sejati) dikenal di Indonesia sebagai tanaman pakis. Subdivisi Pteropsida hidup di daerah dengan iklim tropis dan sub tropis. Subdivisi Pteropsida memiliki akar, batang, daun sejati. Daunnya cukup lebar dibandingkan subdivisi yang lainnya dengan tulang daun yang bercabang. Pada daun muda subdivisi Pteropsida akan menggulung di ujung. Contoh tanaman subdivisi Pteropsida adalah Adiantum cuneatum (suplir), Marsilea crenata (semanggi), serta Asplenium nidus (paku sarang kuda).

Ciri – ciri Pteropsida :

  1. homospora / isospora , dimana spora – spora ini berkumpul dan terletak di bawah daun
    dalam fertilisasi membutuhkan bantuan air sebagai sarana bagi sperma bersilia menuju sel telur.
  2. Sperma bersilia dan sel telur pada subdivisi Pteropsida dihasilkan dari protalium dan protalium merupakan tahap perkembangan dari spora Pteropsida yang jatuh ke tanah.
  3. Penyebaran spora ke berbagai daerah baru dibantu oleh angin batangnya tumbuh di atas permukaan tanah (tegak) juga terbenam dibawah permukaan tanah (rimpang atau rhizome)

Berdaun Mikrofil

Tanaman paku-pakuan yang berdaun mikrofil, yaitu tanaman paku-pakuan yang berdaun kecil yang pada umumnya terdapat pada tumbuhan yang memiliki keunikan sendiri dan tumbuhan paku berdaun mikrofil ini merupakan jenis tumbuhan paku yang tidak langka sehingga mudah untuk ditemukan.

Ciri-ciri tanaman paku-pakuan berdaun mikrofil adalah :

  1. memiliki bentuk daun seperti sisik atau rambut.
  2. struktur daunnya tidak bertangkai
  3. struktur daunnya tidak memiliki tulang.
  4. biasanya tanaman paku-pakuan berdaun mikrofil ini tidak memiliki diferensiasi sel.

Berdaun Makrofil

Berdaun makrofilTanaman paku-pakuan berdaun makrofil adalah tanaman paku-pakuan yang memiliki daun yang besar-besar. Dan tamanan paku berdaun makrofil ini juga tidak langka sehingga muda untuk ditemukan.

Ciri-ciri tanaman paku-pakuan berdaun makrofil adalah :

  1. Memiliki bentuk daun yang besar-besar.
  2. Pada daunnya terdapat tangkai
  3. Memiliki tulang daun serta daunnya bercabang.
  4. Selain itu, tanaman paku berdaun makrofil telah memiliki diferensiasi sel.

Berdaun Tropofil

berdaun tropofilDaun tropofil merupakan daun yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis (proses pembuatan makanan). Yang akan membantu menyerap air yang disalurkan melalui stomata sehingga akan terbentuknya proses fotosintesis secara sempurna. Sehingga berfungsi dalam proses fotosintesis yang menghasilkan zat makanan (glukosa) dan sering disebut dengan daun steril.

Tumbuhan paku berdaun tropofil ini selalu ada di setiap tumbuhan paku karena berperan penting sekali dalam berlangsungnya fotosintesis sebuah tumbuhan yang merupakan daun dari setiap tumbuhan paku yang akan menyerap air yang yang akan membuat tumbuhan paku tumbuh secara sempurna dan bertahan lama.

Berdaun Sporofil

Tanaman paku berdaun sporofilDaun sporofil merupakan daun yang berfungsi sebagai penghasil spora. Spora disimpan didalam kotak spora yang disebut sporangium. Pada daun sporofil inilah kumpulan sporangium (yang disebut sorus) berada, biasanya terletak pada bagian bawah daun dan berupa bintik-bintik berwarna kuning, cokelat, atau cokelat kehitaman.

Sorus-sorus yang masih muda dilindungi oleh membran tipis yang disebut indisium. Dan sporofil memiliki peran penting dalam tumbuhan paku karena merupakan akar dari setiap tumbuhan paku yang akan menghasilkan spora yang akan melengkapi struktur tanaman paku sehingga akan menghasilkan tanaman paku yang sempurna

Homospora

Tanaman paku homospora atau isospora adalah tanaman paku yang menghasilkan satu macam ukuran spora sebagai alat perkembangbiakan (reproduksi) sehingga daun ini memiliki sebutan daun fertil (subur).

Tanaman paku ini terlihat berwarna hijau yang menyegarkan karena merupakan kelompok plantae yang bisa melakukam fotosintesis dan pada tanaman ini pada daunnya terdapat alat reproduksi atau perkembangbiakkan yang disebut dengan spora yang terdapat pada permukaan bawah dari daun. Tanaman paku ini berkembangbiak secara vegetatif dengan spora dan terjadi fertilisasi secara silih berganti sehingga memiliki kemampuan metagenesis.

Contoh : Lycopodium sternum (paku kawat).

Heterospora

Tanaman paku heterospora atau anisospora memiliki ukuran spora yang berbeda, yaitu mikrospora (spora berukuran kecil dan bekelamin jantan) serta makrospora (spora berukuran besar dan berkelamin betina). Mikrospora berukuran lebih kecil dibandingkan dengan makrospora.

Jenis tanaman paku heterospora ini merupakan jenis tanaman paku yang termasuk langka dan sulit untuk ditemukan dan hanya berada di tempat-tempat tertentu karena tak banyak ukuran spora yang berbeda.

Contoh dari tanaman paku heterospora adalah Marsilea crenata (semanggi) dan Selaginella (paku rane).

Peralihan

Tanaman paku peralihanTanaman paku peralihan merupakan tanaman paku-pakuan yang menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran yang sama, jenis kelamin berbeda namun tetap diantara jenis kelamin betina dan jantan.

Namun ketika spora itu jatuh ditempat yang sesuai ternyata dapat menghasilkan prothalium yang berbeda, sehingga masing-masing prothalium akan ada yang bisa menghasilkan Antheridium dan akan ada pula yang bisa menghasilkan archegonium.

Contoh tanaman paku peralihan adalah Equisetum debile (paku ekor kuda).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*